Jumat, 03 Februari 2012

jika hidup adalah suatu perjalanan maka sampai kapankah kita kan berjalan...
akan kah titik hentinya brujung indah....
suatu pesan yang tak mungkin lagi kita pungkiri kita mesti beriman dan bertakwa...

sajak hitam

hey, lihat lah ketika aku menyekap mu dalam 4 sudut yg hitam juga pada kelambu yg hitam, juga dalam hati yang galau-hitam, juga dunia yang hitam, sajak ini kutuliskan buat orang-orang yang hitam di negri ini aku membuat perumpamaan pada bait pertama pada puisi ini smoga kamu mngrti pak. . . kamu yang hitam, apa kau tak tau kami kegelapan, segeromboloan kuda hitam liar mengepung kami, dimalam kami diburu kelelawar hitam, dia menggantung dimata kami, merobek mata kami, kami berjalan tak tau arah, sajak ini sajak hitam, 2012 warnet barcelona

Minggu, 22 Januari 2012

AKU YANG TERSEKAP WAKTU

Jika malam datang
Sedetik waktu adalah 10 tahun masalaluku
Ya, dulu aku tersekap dalam keluguan
Yang tak tau arah
Juga tersesat dalam kemalangan


Semenjak kau bawa aku
Ke dunia mu
Dunia yang belum aku kenal sebelumnya
Disini ah tempat perguruan orang-orang
Yang benar-benar mengerti waktu
Juga manusia-munisa yang berfikir manusia
Serta mahluk-mahluk yang berfikir manusia

Kelak, sepulangnya aku dari sini
ngin ku tuliskan puisi
Kan gantungkan dinding waktu
Agar aku bias kenang
Aku yang tersekap waktu.



Warnet Barcelona, januari 2012

Senin, 14 Maret 2011

puisi

Ketika kau menjelma embun



Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Juga rumput-rumput yang meneteskan air mata

Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata.

Lapangan begog 2011

Minggu, 13 Maret 2011

pada hakikatnay hidup ini pilihan.....
jalan mana yang kita pilih...?
lalu siap kan kita untuk menerima resiko terhadap apa yng kita pilih.

Kamis, 10 Maret 2011

puisi

Ketika kau menjelma embun


Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Dan menjenguk rumput-rumput yang meneteskan air mata

Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata
Yang pernah kau tusukan dikedua telinga ku

Maka ijinkan pula aku membangunkan mentari
Yang tidur dipelipis mu itu
aku sangat bosan dengan hari ini
ya, ketika kau menjema embun


Makambata 2011