BOCAH MAKAMBATA
Sabtu, 11 Februari 2012
Jumat, 03 Februari 2012
sajak hitam
hey, lihat lah ketika aku menyekap mu dalam 4 sudut yg hitam
juga pada kelambu yg hitam,
juga dalam hati yang galau-hitam,
juga dunia yang hitam,
sajak ini kutuliskan buat orang-orang yang hitam di negri ini
aku membuat perumpamaan pada bait pertama pada puisi ini
smoga kamu mngrti pak. . .
kamu yang hitam,
apa kau tak tau kami kegelapan,
segeromboloan kuda hitam liar mengepung kami,
dimalam kami diburu kelelawar hitam,
dia menggantung dimata kami,
merobek mata kami,
kami berjalan tak tau arah,
sajak ini sajak hitam,
2012
warnet barcelona
Minggu, 22 Januari 2012
AKU YANG TERSEKAP WAKTU
Jika malam datang
Sedetik waktu adalah 10 tahun masalaluku
Ya, dulu aku tersekap dalam keluguan
Yang tak tau arah
Juga tersesat dalam kemalangan
Semenjak kau bawa aku
Ke dunia mu
Dunia yang belum aku kenal sebelumnya
Disini ah tempat perguruan orang-orang
Yang benar-benar mengerti waktu
Juga manusia-munisa yang berfikir manusia
Serta mahluk-mahluk yang berfikir manusia
Kelak, sepulangnya aku dari sini
ngin ku tuliskan puisi
Kan gantungkan dinding waktu
Agar aku bias kenang
Aku yang tersekap waktu.
Warnet Barcelona, januari 2012
Sedetik waktu adalah 10 tahun masalaluku
Ya, dulu aku tersekap dalam keluguan
Yang tak tau arah
Juga tersesat dalam kemalangan
Semenjak kau bawa aku
Ke dunia mu
Dunia yang belum aku kenal sebelumnya
Disini ah tempat perguruan orang-orang
Yang benar-benar mengerti waktu
Juga manusia-munisa yang berfikir manusia
Serta mahluk-mahluk yang berfikir manusia
Kelak, sepulangnya aku dari sini
Kan gantungkan dinding waktu
Agar aku bias kenang
Aku yang tersekap waktu.
Warnet Barcelona, januari 2012
Senin, 14 Maret 2011
puisi
Ketika kau menjelma embun
Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Juga rumput-rumput yang meneteskan air mata
Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata.
Lapangan begog 2011
Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Juga rumput-rumput yang meneteskan air mata
Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata.
Lapangan begog 2011
Minggu, 13 Maret 2011
Kamis, 10 Maret 2011
puisi
Ketika kau menjelma embun
Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Dan menjenguk rumput-rumput yang meneteskan air mata
Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata
Yang pernah kau tusukan dikedua telinga ku
Maka ijinkan pula aku membangunkan mentari
Yang tidur dipelipis mu itu
aku sangat bosan dengan hari ini
ya, ketika kau menjema embun
Makambata 2011
Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Dan menjenguk rumput-rumput yang meneteskan air mata
Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata
Yang pernah kau tusukan dikedua telinga ku
Maka ijinkan pula aku membangunkan mentari
Yang tidur dipelipis mu itu
aku sangat bosan dengan hari ini
ya, ketika kau menjema embun
Makambata 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
