Senin, 14 Maret 2011

puisi

Ketika kau menjelma embun



Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Juga rumput-rumput yang meneteskan air mata

Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata.

Lapangan begog 2011

Minggu, 13 Maret 2011

pada hakikatnay hidup ini pilihan.....
jalan mana yang kita pilih...?
lalu siap kan kita untuk menerima resiko terhadap apa yng kita pilih.

Kamis, 10 Maret 2011

puisi

Ketika kau menjelma embun


Keitka kau menjelma embun
Diselaput matamu ada kejernihan
Yang belum sempat aku basuh
Aku ingin kau menemani ku bergualat dengan pagi
Dan menjenguk rumput-rumput yang meneteskan air mata

Jika kau menawarkan aku embun
Maka ijinkan aku meminumnya
Biarkan aku mabuk dengan seribu kata-kata
Yang pernah kau tusukan dikedua telinga ku

Maka ijinkan pula aku membangunkan mentari
Yang tidur dipelipis mu itu
aku sangat bosan dengan hari ini
ya, ketika kau menjema embun


Makambata 2011


Rabu, 09 Maret 2011

puisi

Hujan pagi ini


Hujan menyapa pagi
Dan segerombolan anak kecil telanjang
Dilapangan
Daun-daun yang kedinginan
Merindukan kehangatan jilatan terik

Disinilah tempat kita bermain ketika kita kecil
Juga tempat orang tua kita ketika ia kecil

Kini pohon kelapa tumbang
Pohon melinjo tumbang
Juga permainan-permainan pimpong
simahluk-mahluk tanah yang menggerogoti tubuh kita

hujan pagi ini
mengingatkan ku pada teragedi lapar
mengungkit sejarah nenek moyang kita

ya, kita yang disekap sekelompok binatang-bimatang tanah
tak bias membebaskan diri
tak bias berlari.



Waringnkurung 2011

Senin, 07 Maret 2011

puisi

Rindu Ema


Rindu ku pada Ema
Adalah rindu padi-padi menguning
Juga petani yang haus disawah
Dan minum air hujan

Rinduku pada Ema
Adalah rindu seklompok binatang liar
Dimalam hari yang mencari mangsa

Rinduku pada ema
Adalah rindunya para rindu
Penguasa rindu





Makambata 2011
Ema : adalah gadis pengarang

puisi

Hujan pagi ini


Hujan menyapa pagi
Dan segerombolan anak kecil telanjang
Dilapangan
Daun-daun yang kedinginan
Merindukan kehangatan jilatan terik

Disinilah tempat kita bermain ketika kita kecil
Juga tempat orang tua kita ketika ia kecil

Kini pohon kelapa tumbang
Pohon melinjo tumbang
Juga permainan-permainan pimpong
simahluk-mahluk tanah yang menggerogoti tubuh kita

hujan pagi ini
mengingatkan ku pada teragedi lapar
mengungkit sejarah nenek moyang kita

ya, kita yang disekap sekelompok binatang-bimatang tanah
tak bias membebaskan diri
tak bias berlari.



Waringnkurung 2011

Minggu, 06 Maret 2011

puisi

Sajak perahu penuh luka



Harus kemana lagikah aku berlayar
Sementara kapal yang kubawa sudah tua
Dan mungkin oleng jika terkena gelombang
Maka apakah kita kan daim saja mengikuti
Arus angina yang tak tau arah pula

Jangn kau biarkan aku mati dilaut mu
Ijin kan aku mengibarkan layar dan mendayung
Juga dengarkanlah nyanyian ku lewat air laut
Yang keruh tercampur air mata, Tak ada lagikah
Langkah yang mesti kita jejaki,
Atau kita telah terjebak oleh kearifan mu.

Mudah saja, dengarlah suara air laut itu
Dengarkan juga dialog ku dengan batu karang
Lihatlah matahari yang mampir dilautmu
Lihatlah ikan yang terkapar mati
Lihatlah jugalah perahuku yang tengglam
Lalu kau baca apakah aku mati apakah

puisi

Hujan malam 5 januari

Hujan …
menjelma wajah mu,
wajah yang curam
penuh kegelisahan

dari genting rumah ku
ku tiupkan kebahagiaan
sebagai perumpamaan
angin yang menyelimuti tubuh mu

hujan malam 5 januari
jika hujan adalah teman
lalu mengapa hujan tak mau
menjenguk kita
kita yang sakit


ya,,, hujan 5 januari
aku duduk digubuk dan minum kopi.
Hujan 5 januari






Waringnkurung, 5 januari

Sabtu, 05 Maret 2011

puisi dinur sh

Rindu-rindu


Kerinduan yang menjalar
Tak bias ku dustakan kemana arah kegelisahan
Berjembatan angin ke utara aku melangkah
Bersama kupu-kupu yang tak bercorak
Dalam pusarannya aku terbaring dan lumpuh
Dimanakah teempat persingahan mu yang dulu
Ijin kan aku mampir untuk bersulam dan minum kopi

Tapi, hahahaha

Aku hanya berpura pura lugu
Aku ingn selamanya singgah disini
Dan melampiaskan kekesalanku pada masalalu

Ya aku mabuk

Kau tau siapa yang membuat ku …
Aku dan kamu juga aku dan mereka
Kehilangan akal sehat juga kehilangan arah.


Waringnkurung 2011

Di balik pintu rumah sakit

Apa dan bagai mananya aku tak tau dan aku tak mau tahu apa yang digariskan tuhan terhadap hambanya yang kecil ini.

Dibawah terik matahari yang memanggang pohon dan terotoar jalan, aku terus berjalan dan optimis menjalani kehidupan, ya terang saja kini kau jadi anak perantau, yang enatah apa alasan orang tuaku Mereka menyuruh aku untuk tinggal bersama kakak ku yang ada di Serang sedangkan orang tua ku ada di Indramayu.
Waktu mengikutiku kemana pun aku pergi selalu mengikutiku juga sosok orang tuaku, disekolah pun ibu dan bapak ku selalu ada dalam bayangan ku.
Hari berganti-hari juga minggu berganti-minggu bulan berganti bulan bahkan tahun-berganti tahun tak terasa aku kini tinggal di serang selama kurang lebih 3 tahun. ujian sekolah ku sebentar lagi.
Kini tiba saatnya ujian nasiaoanal (UN).

Seperti biasa aku mengerjakan soal-soal dengan tenang dan penuh keyakinan, di kelas memang aku terkenal aktif, bukan aku menyombongkan diri namun itulah aku, aku tak mau dikatakan orang bodoh.
ujian tingal dua hari lagi, namun dari keluarga ku di Indaramayu menelvon kakak ku agar aku dan kakak ku kesana dengan penuh paksaaan kayanya ada hal yang sangat penting, kakak ku mengajak aku pulang keIndramayu sementara posisi aku disini sedang ujian nasional (UN) dengan berat hati aku menolak ajakan kakak ku untuk pergi keIndramayu, alasan ku sangat jelas posisi aku disina sedang ujian nasional.

Keesokan harinya sedikit agak tercampur fokus pelajaran ku dengan pikiran ku “apakah yang terjadi dirumah...?” Tanya ku dengan penuh kegelisahan.
“ah, mungkin ada urusan keluarga apa lah” pikir ku dengan penuh optimisme.
Namaun di sisi lain kegelisahan ini selalu menghantui pikiran ku aku tidak bias fokus mengerjakan ujian nasional, pikiran ku menarik jiwaku untuk memikirkan hal apa yang terjadi dirumah.
Hari ini hari yang berat pada ku, hari ini ujian matematika sementara kakak ku sudah dua hari di Indramayu apakah aku bias fokus mengerjakan ujian nasional ini, sementara kakak ku disana gak mau mengabarkan hal apa yang terjadi disana pun jaga bapak ibu ku dia tidak mau gak memberikan kabar tentang hal yang terjadi disana.
Ya, nampaknya mereka mengerti tentang keadan ku aku disini, disini aku sedang ujian nasional.
Alhamdulilah, ujian ku telah berakhir, dan aku berdoa kepada allah. “ ya allah semoga lulus ujian dan lindungilah keluargaku disana.”
Sehari setelah ujian. Aku bergegas pergi keIndranayu dengan perasaan cemas dan penasara.

Setibanya aku diIndramayu ibuku memeluk ku dan sedikit tersenyum, namun aku tau dibalik senyumnya yang terpaksa ada kesedihan yang tergambar enatah apa itu.
Itu membuat ku semakin cemas dan pensaran.
"bu apakah yang terjadai ?” Tanya ku dengan wajah cemas.
"Ga ada apa-apa ko nak” jawab ibu, dengan wajah sedikit meringis.
“Nampaknya ada yang ibu sembunyikan pada ku ?” Tanya ku .
“Gak ko na” jawab ibu.
Lalu ibu mengajak ku kesuatu tempat dan aku pun gak tau mau dibawa kemana kah aku setibanya aku ditempat yang ibu maksud ku mata ku ditutup seolah ibu mau memberikan kejutan, entah kejutan apa yang ibu maksud.
Dibawalah aku masuk, sedikit aku mendengar suara tangis kakak ku juga ibu ku.
“ka, kenapa ka ?” tanyaku dengan wajah tertutup.
“Ka lepaskan penutup wajah ini”
Dibukalah tutup mata ku semua anggota keluarga ku menangis disudut pintu, ya sepertinya ini rumah sakit pikir ku. Di buka lah pintu yang sedang ditangisi semua keluarga ku tepatnya itu pintu rumah sakit.
Aku penasaran apa isi dibalik pintu rumah sakit itu setelah ku buka ku lihat ayah ku berbaring dan sudah tak bernafas, aku menangis dan merasa sangat bersalah.
Kesedihan yang sangat mendalam yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.






Ingn tau kisa selanjutnya aku keluar negri demi menebusi kesalahan ku dan jadi penopang hidup keluarga ku…
Nantikan cerpen berikutnya.